Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari pemilik bisnis yang masih ragu membuat website adalah: “Memangnya orang benar-benar cek website dulu sebelum beli?” Pertanyaan ini wajar, karena efek dari riset mandiri konsumen memang tidak selalu terlihat langsung di angka penjualan harian.
Tulisan ini mencoba menjawabnya lewat data yang tersedia, bukan sekadar asumsi. Fokusnya bukan hanya angka persentase semata, tapi juga bagaimana memahami konteks di balik angka tersebut, karena perilaku riset konsumen ternyata jauh lebih kompleks dibanding sekadar “cek atau tidak cek” sebelum membeli.
Pembahasan ini juga sengaja tidak berhenti pada satu angka tunggal yang sering dikutip berulang kali di berbagai artikel serupa, melainkan mencoba melihat dari beberapa sumber sekaligus agar gambaran yang didapat lebih utuh dan tidak menyesatkan karena hanya mengandalkan satu riset dengan konteks yang mungkin berbeda dari kondisi bisnis pembaca.
Daftar Isi
- Data yang Tersedia soal Kebiasaan Riset Konsumen
- Mengenal Fenomena ROPO: Riset Online, Beli di Tempat Lain
- Pola Berbeda Antar Jenis Produk dan Nilai Transaksi
- Apa yang Sebenarnya Dicari Konsumen Saat Riset
- Dampak Nyata bagi Bisnis yang Belum Punya Website
- Cara Membaca Data Ini dengan Proporsional
- Implikasi Praktis untuk Strategi Digital Bisnis
- Pertanyaan yang Sering Muncul
Data yang Tersedia soal Kebiasaan Riset Konsumen
Beberapa riset independen menunjukkan angka yang cukup konsisten meski metodologinya berbeda-beda: mayoritas konsumen digital, baik secara global maupun di Indonesia, terbiasa melakukan riset informasi sebelum benar-benar memutuskan membeli. Databoks pernah melaporkan bahwa lebih dari separuh pengguna internet Indonesia mengaku gemar melakukan riset produk sebelum bertransaksi.
Riset lain di tingkat global bahkan menunjukkan angka yang lebih tinggi lagi, dengan mayoritas besar pembeli mengaku selalu mencari informasi tambahan secara online sebelum menyelesaikan pembelian, baik pembelian tersebut akhirnya terjadi secara online maupun offline, sebuah pola yang juga banyak dikutip dalam literatur pemasaran digital internasional.
Penting dicatat bahwa angka-angka ini bervariasi tergantung metodologi survei, kategori produk yang diteliti, dan tahun pengambilan data. Alih-alih berpegang pada satu angka pasti, cara yang lebih bijak adalah memahami polanya: mayoritas konsumen, dalam berbagai riset yang pernah dilakukan, memang terbiasa mencari informasi lebih dulu sebelum mengambil keputusan final.
Konsistensi pola ini di berbagai riset yang berbeda-beda justru memperkuat kesimpulannya, meski angka pastinya bisa berbeda dari satu survei ke survei lain. Yang jelas, perilaku “langsung beli tanpa cari tahu apa pun” sudah jadi minoritas dibanding perilaku riset mandiri terlebih dahulu.
Riset terkait perilaku belanja daring di Indonesia yang dirilis lembaga seperti Google, Temasek, dan Bain & Company dalam beberapa tahun terakhir juga konsisten menunjukkan mayoritas besar konsumen digital Indonesia lebih memilih mencari opsi belanja secara online dibanding langsung ke toko fisik tanpa riset apa pun terlebih dahulu, memperkuat gambaran bahwa perilaku ini bukan fenomena sementara melainkan pergeseran kebiasaan yang cukup permanen.
Mengenal Fenomena ROPO: Riset Online, Beli di Tempat Lain
Salah satu konsep yang membantu menjelaskan perilaku ini adalah ROPO, singkatan dari Research Online, Purchase Offline. Konsep ini menggambarkan pola konsumen yang mencari informasi secara online, tapi menyelesaikan transaksi di tempat lain, baik itu toko fisik maupun kanal offline lainnya seperti WhatsApp.
Pola ROPO ini sangat relevan untuk konteks Indonesia, di mana banyak transaksi tetap diselesaikan lewat percakapan personal meski proses pencarian informasi awal terjadi secara digital. Calon pembeli mungkin sudah membaca detail produk, membandingkan harga, bahkan menentukan pilihan lewat website atau media sosial, tapi baru benar-benar closing setelah chat langsung dengan penjual.
Fenomena ini penting dipahami karena artinya efektivitas website tidak selalu tercermin langsung dari transaksi yang tercatat di website itu sendiri. Banyak “kontribusi” website justru terjadi di tahap riset, jauh sebelum transaksi benar-benar terjadi lewat kanal yang berbeda.
Ada juga pola sebaliknya yang cukup umum terjadi: konsumen melihat produk secara langsung di toko fisik atau pameran, lalu mencari informasi lebih lanjut secara online sebelum benar-benar memutuskan membeli, termasuk mengecek kredibilitas penjual lewat pencarian nama bisnisnya di internet.
Pola dua arah ini β riset online lalu beli offline, atau lihat offline lalu riset online β menunjukkan bahwa batas antara dunia digital dan fisik dalam perilaku belanja sudah semakin kabur. Bisnis yang hanya mempersiapkan salah satu sisi saja, misalnya hanya fokus pada toko fisik tanpa kehadiran digital yang memadai, berisiko kehilangan calon pembeli di tahap mana pun dari kedua arah pola tersebut.
Pola Berbeda Antar Jenis Produk dan Nilai Transaksi
Tidak semua kategori produk punya intensitas riset yang sama. Produk dengan nilai transaksi kecil dan risiko rendah, seperti jajanan atau kebutuhan harian, cenderung dibeli lebih impulsif tanpa banyak riset mendalam terlebih dahulu.
Sebaliknya, produk atau jasa dengan nilai transaksi lebih besar dan risiko keputusan yang lebih tinggi β jasa konstruksi, pembelian kendaraan, jasa konsultasi profesional β hampir selalu melibatkan tahap riset yang lebih panjang dan mendalam sebelum keputusan akhirnya diambil.
Pola ini masuk akal karena semakin besar risiko finansial atau risiko kualitas yang dipertaruhkan, semakin besar juga kebutuhan calon pembeli untuk memastikan pilihannya tepat sebelum berkomitmen. Website menjadi sangat relevan justru untuk kategori produk dan jasa dengan pola riset yang lebih intensif semacam ini.
Untuk bisnis yang produknya masuk kategori berisiko rendah dan bernilai kecil, dampak website terhadap keputusan pembelian mungkin tidak sebesar bisnis dengan transaksi bernilai besar. Namun bukan berarti tidak relevan sama sekali β website tetap berperan penting untuk membangun kepercayaan jangka panjang dan diferensiasi dari kompetitor sejenis.
Selain nilai transaksi, tingkat kebaruan penyedia jasa atau produk juga memengaruhi intensitas riset. Konsumen yang sudah pernah bertransaksi sebelumnya dan puas dengan hasilnya cenderung melewati tahap riset mendalam pada pembelian berikutnya, sementara konsumen baru yang belum pernah berinteraksi sama sekali hampir selalu melakukan tahap verifikasi lebih dulu sebelum berani mengambil risiko pertama kalinya.
Apa yang Sebenarnya Dicari Konsumen Saat Riset
Memahami persentase yang melakukan riset saja tidak cukup tanpa memahami apa sebenarnya yang mereka cari selama proses tersebut. Pola yang umum ditemukan menunjukkan konsumen mencari beberapa hal utama: kejelasan harga, bukti kualitas lewat ulasan atau testimoni, dan kejelasan identitas penjual.
Kejelasan harga menjadi salah satu pencarian paling umum, terutama untuk produk atau jasa yang harganya tidak selalu transparan di awal. Bisnis yang mencantumkan kisaran harga jelas di website cenderung lebih diuntungkan dibanding yang mengharuskan calon pembeli bertanya langsung hanya untuk sekadar mengetahui rentang harga.
Bukti kualitas lewat ulasan, testimoni, atau portofolio kerja juga jadi pencarian yang konsisten muncul, terutama untuk jasa yang hasilnya sulit dinilai hanya lewat deskripsi teks semata. Semakin konkret bukti yang ditampilkan, semakin besar kemungkinan calon pembeli merasa cukup yakin untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
Kejelasan identitas penjual, termasuk legalitas dan lokasi operasional, juga jadi perhatian khusus terutama untuk transaksi bernilai besar atau yang melibatkan pembayaran di muka. Ketiadaan informasi ini sering jadi alasan konsumen mengurungkan niat, meski produk yang ditawarkan sebenarnya sudah cukup menarik.
Dampak Nyata bagi Bisnis yang Belum Punya Website
Bagi bisnis yang belum punya website, dampak paling nyata dari pola riset mandiri ini adalah hilangnya kontrol atas narasi yang ditemukan calon pembeli saat mereka mencoba mencari informasi. Tanpa website resmi, informasi yang ditemukan bisa jadi tidak lengkap, tersebar tidak rapi, atau bahkan sama sekali tidak muncul.
Situasi ini menciptakan celah yang berisiko diisi kompetitor. Ketika calon pembeli mencari informasi dan menemukan kompetitor yang tampil lebih lengkap dan meyakinkan, keputusan bisa berbalik arah meski sebelumnya sudah tertarik dengan penawaran bisnis pertama yang mereka temukan lewat media sosial atau rekomendasi.
Dampak ini semakin terasa untuk transaksi yang melibatkan lebih dari satu pengambil keputusan, misalnya pembelian untuk kebutuhan keluarga atau pengadaan untuk kebutuhan kantor. Ketika satu pihak perlu meyakinkan pihak lain, mereka membutuhkan sumber informasi yang bisa dibagikan dan dirujuk bersama β sesuatu yang jauh lebih mudah dilakukan lewat tautan website dibanding sekadar mengandalkan ingatan atau tangkapan layar percakapan.
Cara Membaca Data Ini dengan Proporsional
Penting untuk tidak menelan angka riset semacam ini secara mentah tanpa konteks. Persentase yang dilaporkan satu riset belum tentu berlaku sama persis untuk setiap jenis bisnis, lokasi geografis, atau segmen usia pelanggan yang berbeda-beda.
Cara yang lebih proporsional adalah menggunakan data ini sebagai indikasi umum arah perilaku konsumen, bukan sebagai angka pasti yang harus dicocokkan persis dengan kondisi bisnis sendiri. Yang lebih penting dari angka pastinya adalah kesadaran bahwa perilaku riset mandiri ini nyata terjadi dan cenderung meningkat, bukan menurun, seiring waktu.
Pendekatan yang lebih berguna adalah mengamati langsung pola perilaku pelanggan sendiri, misalnya dengan bertanya kepada pelanggan baru dari mana mereka pertama kali mendengar tentang bisnis, dan apakah mereka sempat mencari informasi tambahan sebelum akhirnya menghubungi atau membeli.
Data internal semacam ini, meski sederhana dan tidak seformal riset akademis, sering kali lebih relevan untuk pengambilan keputusan bisnis dibanding data agregat nasional yang mencakup berbagai kategori produk dan segmen pasar yang sangat beragam.
Implikasi Praktis untuk Strategi Digital Bisnis
Implikasi paling langsung dari data ini adalah pentingnya memastikan informasi dasar yang paling dicari konsumen β harga, bukti kualitas, dan identitas penjual β benar-benar tersedia dan mudah ditemukan di website, bukan tersembunyi atau harus ditanyakan langsung satu per satu.
Implikasi kedua adalah pentingnya konsistensi informasi lintas kanal. Karena konsumen sering berpindah antara berbagai sumber saat riset β media sosial, marketplace, website, pencarian Google β informasi yang saling bertentangan antar kanal bisa menimbulkan kebingungan yang justru menghambat keputusan pembelian.
Implikasi ketiga, khusus untuk bisnis dengan pola ROPO yang kuat, adalah pentingnya memudahkan transisi dari riset online ke transaksi offline atau lewat WhatsApp. Tombol kontak yang jelas dan responsif jadi jembatan penting yang menghubungkan tahap riset dengan tahap keputusan akhir.
Implikasi terakhir adalah perlunya kesabaran dalam mengukur efektivitas website. Karena banyak transaksi baru terjadi setelah tahap riset yang panjang dan lewat kanal berbeda, efek website terhadap penjualan mungkin tidak selalu terlihat instan dalam laporan analitik, meski kontribusinya nyata ada di balik keputusan pembelian yang akhirnya terjadi.
Memahami keempat implikasi ini membantu menggeser cara pandang terhadap website, dari sekadar “tempat jualan” menjadi “titik krusial dalam perjalanan keputusan pembelian pelanggan”. Pergeseran cara pandang ini penting, karena mengukur keberhasilan website hanya dari jumlah transaksi langsung yang terjadi di dalamnya berisiko meremehkan kontribusi sesungguhnya terhadap keseluruhan proses penjualan bisnis.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah angka persentase riset konsumen ini berlaku sama untuk semua kategori usia?
Tidak selalu sama. Konsumen yang lebih muda cenderung membandingkan lebih banyak sumber sebelum memutuskan, sementara konsumen yang lebih dewasa cenderung lebih cepat percaya pada satu atau dua sumber yang sudah mereka anggap kredibel. Namun kecenderungan umum untuk melakukan riset mandiri tetap terlihat di hampir semua kelompok usia.
Kalau bisnis sudah lama berjalan tanpa website dan tetap laku, apakah data ini masih relevan?
Tetap relevan, karena data ini bukan berarti bisnis tanpa website pasti gagal, melainkan menunjukkan adanya potensi yang belum tergarap maksimal. Bisnis yang sudah laku tanpa website kemungkinan besar masih kehilangan sebagian calon pelanggan yang sebenarnya tertarik tapi mengurungkan niat karena tidak menemukan informasi cukup meyakinkan saat mencoba riset mandiri, dan potensi yang hilang ini biasanya sulit disadari karena tidak pernah tercatat sebagai kerugian yang jelas.
Bagaimana cara mengetahui apakah pelanggan bisnis sendiri termasuk yang melakukan riset online sebelum membeli?
Cara paling sederhana adalah bertanya langsung kepada pelanggan baru, misalnya lewat pertanyaan singkat setelah transaksi selesai tentang dari mana mereka pertama kali mengenal bisnis dan apakah sempat mencari informasi tambahan sebelum menghubungi. Pola jawaban dari beberapa pelanggan biasanya sudah cukup memberi gambaran kasar tanpa perlu riset formal berskala besar, dan bisa diulang setiap beberapa bulan untuk melihat apakah polanya berubah seiring waktu.
Apakah fenomena ROPO berarti website tidak perlu punya fitur transaksi lengkap seperti keranjang belanja?
Tidak selalu berarti demikian, tapi menunjukkan bahwa fitur transaksi lengkap bukan satu-satunya ukuran keberhasilan website. Untuk bisnis dengan pola ROPO kuat, kelengkapan informasi dan kemudahan menghubungi penjual sering kali lebih penting dibanding fitur checkout otomatis yang canggih.
Apakah data riset konsumen semacam ini perlu dipantau ulang secara berkala oleh pemilik bisnis?
Sebaiknya iya, meski tidak harus lewat riset formal berbayar. Memantau tren umum lewat sumber terpercaya secara berkala membantu memastikan strategi digital bisnis tetap relevan dengan pergeseran kebiasaan konsumen, mengingat pola perilaku digital cenderung terus berubah mengikuti perkembangan teknologi dan kebiasaan masyarakat.
Untuk memahami lebih dalam fenomena ROPO dan penerapannya bagi pelaku usaha kecil di Indonesia, pembahasan lebih lanjut bisa dibaca di ukmindonesia.id, portal pengetahuan yang fokus membahas strategi digital untuk UMKM, termasuk berbagai studi perilaku konsumen yang relevan bagi pelaku usaha kecil dan menengah.